Selasa, 31 Desember 2013



IBU

Mungkin orang kata kita lahir di perut ibu,itu bukan orang kata, memang itu benar.
Semua orang di dunia ini terlahir dari perut seorang ibu, begitupun juga aku.
Aku terlahir dengan kasih sayang seorang ibu yang paling aku cintai.

Ibu…
Ketika ku dahaga engkau susukan aku
Ibu…
Ketika aku lapar engkau suapkan aku
Ibu…
ketika ku  bangun dari tidur aku mencari ibu
ibu…
ketika ku menangis orang yang pertama ku datangi itu ibu
ibu…
ketika ku ingin dimanja aku dekati ibu
ibu…
ketika ku sedih engkau yang menghibur ku
ibu…
ketika ku nakal engkau menasehati ku
ibu…
ketika ku takut, aku selalu panggil ibu
ibu…
ketika engkau sakit orang yang paling risau yaitu aku

Aku ingin punya pasangan hidup yang bisa menemani ku dalam suka maupun duka
Tetapi aku tak mau jadi begini…

Bila sukses aku cari pasanganku
Bila gagal aku ceritakan kepada ibu
Bila bahagia aku peluk erat pasangan ku
Bila berduka aku peluk erat ibu
Bila liburan aku bawa pasangan ku
Bila sibuk aku bawa anak kerumah ibu
Bila pasanganku sedang berulang tahun kuberi hadiah
Bila sambut hari ibu aku hanya bisa mengucapkan “ selamat hari ibu “
Terus menerus mengingat pasangan,, tetapi ibu selalu ingat kepadaku

Renungkan kawan,,

kalau kita sudah bisa bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, kenapa kita tidak mengirim uang buat ibu? Beliau tidak butuh uang banyak,  dengan kita memberi seadanya saja beliau sudah bilang “terimakasih nak.” Apakah tidak berderai air mata kita  jika mendengarnya kawan ?


Tapi jika ibu sudah tiada,,,
Aku hanya bisa berbisik kepada angin

Ibu….
Aku rindu kamu
Begitu banyak orang yang bisa menyuapi ibu
Begitu banyak orang yang bisa mencuci kaki ibu
Begitu banyak orang yang sanggup berhenti bekerja untuk menjaga ibu


Ini hanya sebuah cerita yang keluar disaat kita rindu akan sosok seorang ibu. Dimana ibu akan memberi yang terbaik buat kita. Beliau tidak pernah meminta apapun, Beliau hanya ingin mempunyai anak yang sholeh dan melihat anaknya bahagia dan sukses. Selagi ibu kita masih ada jangan pernah kau sia-siakan beliau, kawan.
Suka cita di Negeri orang

Mungkin banyak orang berpikiran bahwa tinggal di negeri orang itu menyenangkan, dengan hidup serba praktis dan penghasilan yang besar. Tidak heran jika  setiap orang Indonesia yang pernah atau tinggal di negeri orang, kita anggap sebagai orang – orang yang beruntung.

Mungkin benar, saya merasa sebagai orang yang beruntung, karena bisa bekerja dan tinggal di negeri orang yang pada saat itu usia saya sedang beranjak dewasa. Tetapi menjalani hidup di negeri orang itu tidak semudah membalikan telapak tangan, apalagi pada waktu itu usia saya masih 18 tahun. 

Dimana pada usia itu, waktunya kita sebagai remaja yang baru menyelesaikan Sekolah Menengah Atas merasakan kebebasan, karena kita telah berhasil menyelesaikan pendidikan selama 12 tahun.  Kadang saya merasa iri, ketika menghubungi teman yang ada di Indonesia. Mereka sedang berkumpul di suatu tempat dengan berbagi cerita yang menyenangkan. 

Sedangkan saya harus bergelut dengan kegiatan sehari-hari saya di perusahaan dengan pekerjaan yang sangat super sibuk bila dibandingkan dengan beberapa pekerjaan yang ada di perusahaan-perusahaan di Indonesia. Mungkin inilah nasib saya, tetapi saya selalu bersyukur kepada Allah SWT karena dengan tinggalnya di negeri orang saya mendapatkan banyak pengalaman yang sangat berharga yang mungkin orang lain yang seumuran saya tidak dapat merasakannya.

Ketika disana saya di tuntut untuk hidup mandiri, dimana semua pekerjaan rumah saya lakukan sendiri, seperti memasak, mencuci, berbelanja kebutuhan hidup, dan lain- lain. Jauh dari orang tua memang sulit tapi semua harus dihadapi jika ingin bertahan hidup disana. 

Bagi saya teman-teman seperjuangan yang tinggal di sana sudah menjadi bagian dari keluarga, karena jika bukan mereka siapa lagi orang yang bisa berbagi dalam suka dan duka. Hal yang paling sulit ketika jauh dari orang tua yaitu ketika mengalami sakit, dimana dalam keadaan sakit saya harus tetap melakukan kegiatan di rumah sendiri dan pergi kerumah sakit sendiri dengan sepedah di tengah dinginnya suhu di musim dingin. 

Bahkan yang paling membuat saya khawatir ketika mendengar orang tua saya  di Indonesia sakit. Jujur, rasanya ingin segera pulang ke rumah untuk menjaga orang tua. Tapi, itu semua tidak bisa. Karena perjanjian kontrak kerja yang  belum selesai yang membuat saya tidak bisa pulang . Disana saya hanya bisa berdoa dan berharap di beri umur panjang agar bisa berkumpul bersama kembali.


Mungkin inilah sedikit kisah hidup saya di negeri orang, yang mungkin orang selalu beranggapan hidup di negeri orang itu nyaman dengan penghasilan yang besar dan fasilitas yang memadai. Tetapi dibalik semuanya saya merasa beruntung dengan semua pengalaman yang saya dapat dan pembentukan karakter yang saya terima di sana. Dimana saya mengerti bahwa kedisiplin itu merupakan dasar diri kita untuk menjadi orang yang sukses. :)